Senin, 10 September 2012

AKU DAN PENANTIA


Cinta, setiap hati memiliki kebebasan untuk memilih cinta. Namun, cinta juga memiliki hak untuk memilih hati yang kelak dengan ikhlas mengatakan ‘aku memiliki c-i-n-t-a untukmu’.
Allah menciptakan hal yang paling misterius di dunia ini, hati. Setiap orang memiliki hati yang terkadang sang pemilik hati pun tidak mempunyai daya untuk mencegah hatinya memberikan ‘cinta’ untuk seseorang yang masih menjadi sebuah rahasia.
Matahari yang beranjak terbenam, awan yang menjelma menjadi lukisan raksasa penuh warna, angin yang membawa kedamaian, beberapa burung yang terbang naik-turun di atas bumi, menjadi saksi bahwa, hati manusia memiliki kebebasan memilih bagaimana dia mencintai seseorang.
“Ya Allah, meskipun hamba hanya dapat melihatnya dari sini, izinkanlah hati hamba menjadi seperti angin yang lembut ini. Hingga hati hamba menjadi sedikit lebih dekat dengan hati Kak Ilham,” inilah doa dari hati seorang gadis berkerudung putih saat memandang seorang pemuda tampan. Pemuda tampan itu duduk di atas rerumputan hijau dan tanpa disadarinya, dia telah mempersembahkan alunan melodi indah dari sebuah gitar untuk gadis itu. Dibuai oleh kelembutan angin dan suara ‘ngik-ngik’ ayunannya, gadis itu memandanginya dengan penuh kekaguman. Dari tatapannya, gadis itu telah mengenal pribadi pemuda itu dengan sangat baik. Karena terpaku memandang pemuda itu, gadis itu tidak menyadari kedatangan sahabatnya.
“Door! Syifa, Assalamu’alaikum!” sahabatnya itu langsung duduk di atas ayunan tepat di sampingnya.
“Wa’alaikumsalam,” Syifa menjawab salam dari sahabatnya dengan tenang dan mendorong kembali ayunannya.
“Kamu kok nggak kaget Fa? Padahal aku udah ngumpulin energi buat ngagetin kamu, makan bakso, mie ayam, spaghetti, sushie, rendang, emm… apa lagi ya?” sambil menggigit telunjuk kanannya.
“Riri! Aku tahu, siang tadi kamu cuma makan nasi bungkus pake ikan teri sama kerupuk udang di kantin kan?” tanpa mengubah arah pandangannya.
“Riri, Riri, namaku itu Nuri Anggraini Puspitasari. Hehe, tapi bener juga sih aku cuma makan nasi bungkus tadi. Kamu nglihatin apa sih Fa? (mengikuti arah pandangan Syifa) Oh, dia lagi!”
Syifa hanya tersenyum simpul mendengar celotehan sahabatnya. Meskipun jalinan persahabatan mereka baru terbina sejak dua tahun lalu, Nuri sudah sangat fasih memahami hati sahabatnya yang memang sudah lama, atau mungkin sudah sangat terlalu lama menyimpan sebuah rasa yang indah untuk Ilham. Sementara Syifa terus memandangi Ilham dengan beberapa kedipan mata, Nuri justru memandangi Ilham dengan sorot mata yang tajam. Setiap gerakan jari-jemari Ilham memetik senar gitar, perjalanan kedua bola mata Ilham yang mondar-mandir dari kiri ke kanan mengikuti deretan huruf yang harus memenuhi takdirnya untuk dibenci orang yang malas belajar dan dikagumi orang yang ingin mencari ilmu bermanfaat dunia wal akhirat (mungkin sedikit berlebihan).
“Fa, Ilham itu aneh ya!”
“Aneh?”
“Ya aneh. Lihat aja, dia itu main gitar tapi nggak bisa nikmatin permainannya sendiri. Buku terus kayaknya yang bisa dinikmati. Aku tahu sih, kuliah kedokteran itu emang susah, pake banget malah. Tapi nggak harus gitu juga kan? Harusnya, dia itu bisa menikmati sesuatu yang bisa bikin dia bahagia.”
“Dia nggak aneh Riri. Kak Ilham selalu bahagia nglakuin apa yang dia mau. Sekarang itu, dia nggak belajar, tapi dia main gitar sambil belajar. Aku yakin, Kak Ilham pasti enjoy nglakuin itu semua. Jujur ya Ri, kalau aku dengerin Kak Ilham main gitar kayak gini, hati aku rasanya jadi tenang, adem, terus nada-nada ini, rasanya jujur banget Ri.”
“Huuuh, Syifa lebay deh. Tapi Fa, aku nggak ngerti maksud kamu apa? Soalnya ya, bahasa kamu dalem, terus aneh Syifa. Jadi, sebaiknya kalau ngomong sama aku soal Kak Ilham kamu itu, to do point aja, OKE!”
“Aku nggak bisa Ri, soalnya perasaan aku ini rumit banget rasanya. Bukan rumit sih, tapi campur aduk. Bahagia, takut, malu, deg-degan, semuanya ada.”
“Syifa, bilang aja kalau kamu sayang sama Ilham, you’re falling in love with him. Tapi, kamu sendiri yang bikin rumit perasaan kamu. Harusnya ya, kalau kamu punya rasa itu buat dia, kamu jujur sama dia. Bukan malah menyimpan perasaan itu. Gimana Ilham bisa tahu perasaan kamu Syifa?”
“Kalau aku bisa, aku pasti jujur Ri, karena aku nggak mau mempunyai perasaan ini sendirian. Tapi, aku takut memiliki perasaan ini Ri.”
Mendengar kata-kata Syifa, Nuri menjadi sedikit bingung menghadapi kerumitan perasaan sahabatnya itu. Namun, di tengah keheningannya berpikir dalam kebingungan, “Syifa, kalau hati kamu sudah berani mempunyai perasaan cinta untuk dia, hati kamu juga harus siap buat patah hati. Itu namanya salah satu hukum alam tentang cinta. Kamu bisa kok punya cinta, tanpa efek samping patah hati, cinta dari dan untuk Allah SWT. Hehe.”
“Dalem banget Ri. Tapi, makasih ya. Ngomong-ngomong, siapa yang udah buat hukum alam si cinta itu Ri?” sedikit terkejut mendengar kata-kata yang begitu menyentuh dari sahabatnya.
“Eeem, nggak tahu sih. Aku sendiri bingung Fa, dari mana kata-kata indah dan penuh makna itu muncul. Tapi, emang sih aku punya bakat jadi dokter heart and love, and you’re my first patient.
Syifa hanya bisa menghela nafas panjang melihat sahabatnya yang sedang berpetualang ke langit ketujuh.
Cinta adalah sebuah takdir. Pertemuan hati dengan cinta adalah karena takdir Allah SWT. Salah satu takdir Allah SWT yang paling dinanti oleh hati hamba-Nya.
Sehari berselang, takdir hari ini mempertemukan kembali Syifa dengan cintanya. Siang itu, Syifa harus menemani Nuri bertemu dosen pembimbing akademiknya untuk membatalkan KRSnya di kampus Ilham. Hal yang terlihat sangat sederhana untuk dua buah tanda tangan dosen menjadi hal yang penuh liku untuk Syifa dan Nuri. Mereka berdua harus menunggu sang dosen keluar dari ruang pertemuannya selama dua setengah jam, mengikuti salat jamaah dzuhur terlebih dahulu bersama bapak dosen yang sangat mirip dengan Pak Habibie, dan mendengar sedikit komentar beberapa dosen lain tentang human error Nuri yang sangat unik (bagaimana tidak, Nuri memilih semua mata kuliah dari kelas A sampai F untuk semua dosen, bukan karena lupa memakai kacamata Harry Potter kesayangannya, tapi karena terlalu bersemangat). Untungnya, PA Nuri yang mungkin termasuk daftar tujuh orang di dunia yang sangat-sangat mirip Bapak B.J. Habibie, bersedia bersabar memberikan senyuman hangat dan beberapa wejangan untuk Nuri dan Syifa.
“Alhamdulillah ya Allah! Untung ya Fa, Pak Yusuf baik, baiiiik banget. Fiuh…. Syifa, aku lega banget. Ya ampun!” sambil terus berjalan, meremas-remas jari-jarinya yang masih dingin tanpa menyadari bahwa Syifa bertemu lampu merah tepat di depan ruang laboratorium.
Lampu merah yang membuat jantung Syifa berdetak lebih kencang dan membuat kedua tatapannya fokus pada satu titik dengan penuh kekaguman. Ilham ada tepat di hadapannya, di dalam ruang laboratorium itu. Namun, perasaan aneh yang seakan membuat hatinya harus terombang-ambing karena perasaannya untuk Ilham, muncul tiba-tiba. Di dalam ruangan itu, Ilham dan seorang temannya sedang berkonsultasi dengan seorang dosen. Ilham dan teman di sampingnya itu tampak begitu akrab, saling memahami satu sama lain, dan mereka mempunyai sesuatu yang tidak pernah dimiliki Syifa bersama Ilham, sebuah kehangatan. Syifa berkata dalam hatinya, “Kak Ilham dan dia kayaknya deket banget. Dia cantik, pinter, dan kayaknya baik banget. Ya Allah, apa ini saatnya aku harus berhenti menyimpan rasa ini untuk Kak Ilham? Tapi kenapa rasanya masih sangat berat merelakan perasaan ini untuk pergi.”
Rupanya dosen Ilham menyadari keberadaan Syifa yang tampak begitu jelas dari kaca bening laboratorium. Dosen itu menggerakkkan kaca matanya naik-turun, memperhatikan Syifa dalam-dalam. Ilham dan temannya pun mengikuti arah pandangan dosen mereka. Menyadari itu semua, Syifa langsung menunduk, kemudian perlahan berjalan mengendap-endap sejauh sepuluh meter menjauhi laboratorium itu. Dari kejauhan, Nuri terlihat masih sibuk berbicara sendirian mensyukuri nikmat Allah SWT karena mendapat dosen PA yang super duper baik. Beberapa mahasiswa yang ada di sekitar rute perjalanan Syifa dan Nuri memperhatikan sikap aneh Nuri, kemudian melihat Syifa berjalan menegendap-endap di depan ruang laboratorium. Mereka hanya tersenyum kecil dan berkomentar seperti ini, “Maybe, there are something wrong in our campus, or the two girls are unique and strange.” Ternyata hari ini bukan hanya hari yang penuh liku, namun juga hari yang penuh kegalauan untuk Syifa.
Setiap hati pasti akan menemui kegalauan dalam cinta. Tapi, saat itulah mereka belajar tentang cinta.
Sesampainya di rumah, belum ada yang berubah dengan perasaan Syifa. Tentang semua rasa cintanya untuk Ilham, rasa cemburunya, rasa ketakutannya, dan rasa keraguan akan perasaannya. Apakah hatinya harus merelakan atau memperjuangkan cinta. Semuanya seperti menumpuk menjadi satu, menjadi beban di hati dan pikiran Syifa.
Di teras rumah, Syifa melihat ibunya memotong-motong daun singkong yang segar dan hijau untuk membuat buntil, makanan favorit ayah Syifa. Setelah melepas kedua sepatunya, Syifa mencium tangan ibunya.
“Wa’alaikumsalam Syifa,” ibu Syifa mengingatkan putrinya untuk memberi salam.
“Maaf Bu, Syifa lupa. Kalau gitu, Assalamu’alaikum, ibu Syifa yang paling cantik dan baik,” sambil memberikan senyuman.
“Syifa, Wa’alaikumsalam lagi. Syifa, kenapa? Ada masalah di kampus?” menatap Syifa.
“Syifa nggak apa-apa kok Bu. Tapi, mungkin buntil yang akan ibu masak ini sama seperti hati Syifa sekarang. Rasanya enak, tapi ada pahitnya juga. Kalau nggak beruntung, pahit banget.”
“Syifa mau cerita sama Ibu? Apa sih, yang bisa membuat hati anak ibu ini serasa seperti buntil?”
“Tapi Syifa malu ceritanya Bu.”
“Syifa yakin nggak mau cerita? Apa Syifa mau cerita aja sama ayah nanti? Tapi, kalau Syifa juga nggak mau cerita sama ayah, ibu percaya Syifa pasti bisa menghadapi masalah Syifa,” berusaha membujuk putrinya.
“Ayah? Nanti kalau Syifa cerita ke ayah pasti ayah ngejek Syifa. Syifa cerita sama Ibu aja ya (tersenyum malu). Sebenernya, Syifa bingung sama hati Syifa sendiri Bu. Menurut Ibu, cinta itu apa juga harus mengikuti perkembangan zaman? Jadi, cinta zaman sekarang juga harus modern, seperti zamannya. Atau Syifa harus memperlakukan cinta Syifa dengan cara yang sederhana. Karena buat Syifa, cinta itu sederhana.”
“Hihi…. Anak ibu baru jatuh cinta ternyata. Cinta sederhana, cinta ala Khahlil Gibran ya?” sambil tersenyum geli dan bahagia melihat putrinya telah mengenal cinta.
“Tu kan. Ibu senyum-senyum, apalagi Ayah. Syifa salah ya Bu, kalau Syifa berharap suatu saat akan ada seseorang yang bisa memahami cinta Syifa, meskipun selama ini Syifa jauh dari dia. Syifa hanya bisa memandang dia, mendengar suara gitarnya yang buat Syifa itu semuanya adalah kejujuran hatinya, mengagumi dia, dan Syifa nggak pernah punya keberanian untuk jujur ke dia tentang rasa cinta Syifa buat dia. Kata orang, cinta itu sumber kebahagiaan. Tapi kenapa cinta yang Syifa miliki cuma bisa buat Syifa sedih,” Syifa memandang kedua mata ibunya dengan mata yang sudah mulai basah.
“Huuh…(menghela nafas panjang). Syifa masih yakin kalau di dunia ini ada cinta yang sederhana?”
“Sebenernya, Syifa masih yakin nggak yakin Bu.”
“Allah sudah menggariskan takdir yang terbaik untuk seluruh hamba-Nya karena Allah mempunyai cinta yang tidak terhingga untuk seluruh hamba-Nya, begitu juga untuk Syifa. Cinta yang paling tulus, paling indah, paling suci, paling berharga hanya milik Allah. Allah menganugerahkan hati pada setiap manusia yang salah satu tugas hati adalah untuk mempunyai cinta. Tapi terkadang, manusia tidak memahami bagaimana hatinya memilih cinta. Kalau Syifa sudah mempunyai keyakinan, suatu saat nanti Allah akan akan mempertemukan Syifa dengan jodoh Syifa, yang entah itu dengan cinta yang sederhana atau rumit, Syifa hanya perlu melakukan satu hal,” sambil sedikit tersenyum penuh tanda tanya untuk Syifa.
“Satu hal?”
“Syifa berdoa kepada Allah agar mendapat kekuatan untuk meneguhkan hati Syifa. Keteguhan hati agar Syifa dapat menjaga hati Syifa untuk Allah. Dan Syifa juga harus memohon kepada Allah agar siapapun jodoh Syifa nanti, kelak dia juga akan selalu berusaha menjaga hatinya untuk Allah. Sampai suatu saat nanti, kalian berdua bertemu dalam keadaan yang baik karena Allah SWT. Jodoh itu memang harus dicari. Setiap manusia mempunyai cara dan jalan yang berbeda untuk dipertemukan dengan jodohnya. Tapi Allah mempunyai metode paling canggih untuk mempertemukan hati hamba-hamba-Nya.”
“Terima kasih ya Bu. Hati Syifa jadi lebih adem sekarang. Meskipun jodoh Syifa nanti ternyata bukan dia, tapi insyaallah Allah akan mempertemukan Syifa dengan jodoh yang terbaik untuk Syifa. Syifa akan selalu berdoa dan berusaha agar suatu saat nanti Syifa dapat bertemu jodoh Syifa karena Allah. Betemu dia yang akan selalu menjaga hatinya untuk Allah. Amiin,” memeluk ibunya dengan sangat erat dan akhirnya daun singkong yang ada di pangkuan ibu Syifa jatuh di atas lantai.
“Syifa!”
“Hehehe, maafin Syifa, Bu. Nggak sengaja Syifanya. Tapi ibu janji  ya, sama Syifa  kalau ibu nggak akan cerita sama Ayah soal hati Syifa yang galau ini. Soalnya, kalau ayah tahu pasti…. Pokoknya nyebelin. Ibu.., janji… (berusaha merayu dengan wajah penuh kepolosan).”
“Hehehehe…. Ibu, gimana ya? Ibu janji, ibu akan menjaga rahasia kegalauan hati Syifa ini. Tapi, ibu juga janji kalau suatu saat ayah harus tahu rahasia Syifa, ibu akan mengizinkan ayah tahu tentang rahasia Syifa ini. Adil kan?”                                                                                                 
“Ibu? Pokoknya, ini rahasia Syifa sama ibu. Tapi kalau ibu janji seperti itu, nggak apa-apa sih. Tapi-tapi Bu, gimana caranya Syifa berusaha mencari  jodoh Syifa?”
“Suatu saat nanti, Syifa pasti akan mengerti. Yang penting, Syifa rajin berdoa, patuh pada orang tua, kuliah dulu yang bener, dan….”
“Dan belajar mengikhlaskan cinta…. karena cinta itu sederhana.”
“Syifa!”
Terkadang, cinta berarti bersahabat dengan penantian. Penantian, sebuah perjalanan untuk menemukan takdir tentang cinta.
Perjalanan cinta Syifa membawanya pada sebuah penantian yang cukup panjang. Rupanya, satu setengah tahun belum cukup bagi Syifa untuk berhenti bersahabat dengan penantian cintanya. Namun, banyak perubahan yang terjadi dalam diri Syifa. Perubahan yang terjadi karena mengikuti kata hatinya untuk menjaga kesetiaan cintanya untuk Ilham. Cintanya untuk Ilham membuatnya lebih bersemangat menjalani kehidupan dan tidak pernah berhenti untuk memiliki harapan. Cintanya untuk Ilham, membuat kehidupan Syifa lebih bermakna karena takdir cinta membimbing Syifa untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, pemilik hati seluruh umat manusia.
Selama 548 hari, hampir setiap senja menjelang Syifa selalu mengunjungi sebuah taman yang masih menyimpan kenangan indahnya, meskipun hanya kenangan milik satu. Syifa duduk di atas ayunan untuk sedikit mengingat Ilham yang dulu selalu memetik senar gitar di kejauhan, mengagumi kejujuran alunan nada dari gitar Ilham. Selama 548 hari itulah, Syifa tidak lagi bisa bertemu dengan pangeran hatinya. Ilham harus menempuh pendidikan Ko-As sekitar satu setengah tahun di sebuah rumah sakit di daerah Bondowoso. Sedangkan Syifa, dua bulan lagi, dia akan memperoleh gelar sarjana keperawatan.
Sampai detik ini berjalan, Syifa masih menjaga rasa itu untuk Ilham. Namun, Syifa harus menghadapi pilihan yang sangat berat dalam penantiannya dan semuanya harus berubah. Malam itu, ayah dan ibu Syifa memanggil Syifa untuk membicarakan sebuah hal yang sangat penting untuk masa depan Syifa. Syifa duduk di atas kursi beranyam bambu yang baginya adalah kursi yang paling nyaman. Krek…krek… (sedikit bunyi yang muncul dari kursi bambu itu). Syifa masih mencari posisi duduk paling nyaman ketika kedua orang tuanya terus memandangi Syifa.
“Syifa?”
“Iya Yah,” memandang wajah kedua orang tuanya yang tepat duduk di hadapannya, “Syifa udah boleh minum teh ini Bu?” Mendengar pertanyaan putrinya, ibu Syifa hanya tersenyum hangat.
“Syifa?” ayah Syifa kembali menegur Syifa sambil menyempurnakan posisi pecinya.
“Iya Yah. Syifa tahu, Ayah dan Ibu ingin menyampaikan sesuatu yang sangat-sangat penting. Tapi, Syifa boleh minum dulu kan Yah?”
“Heh… Syifa!” Ayah mengizinkan Syifa untuk minum segelas teh di depannya. Setelah itu, “Ayah dan Ibu tahu, mungkin apa yang akan Ayah sampaikan nanti berat untuk Syifa. Tapi, Ayah tetap harus menyampaikan ini semua. Syifa sekarang sudah dewasa, meskipun bagi Ayah, Syifa masih putri kecil Ayah. Sebentar lagi, sudah saatnya Syifa memenuhi sunatullah untuk membina rumah tangga.” Ayah menghela nafas panjang melihat putrinya terus memandangi wajahnya. “Dulu, Ayah dan sahabat kecil Ayah pernah berjanji. Suatu saat nanti, kami berdua akan menjodohkan putra-putri kami kalau Allah meridhai. Satu bulan yang lalu, Ayah bertemu lagi dengan sahabat Ayah itu. Sahabat ayah, punya dua orang anak. Satu anak perempuan yang sekarang sudah menikah dan satu anak laki-laki yang sudah mempercayakan jodohnya nanti kepada kedua orang tuanya. Syifa, kami berdua sudah berbicara banyak hal tentang putranya dan tentang Syifa. Insyaallah, Ayah dan sahabat Ayah akan melaksanakan janji kami untuk menjodohkan Syifa dengan putranya.” Syifa mengalihkan pandangannya kepada wajah ibunya yang sejak tadi tampak mencemaskan keadaan Syifa. Ayah Syifa memahami hati putrinya yang mengharapkan bantuan dari ibunya, “Ayah juga sudah membicarakan ini semua dengan Ibu. Ibu sudah menceritakan banyak hal tentang hati Syifa selama ini. Ayah mengerti perasaan Syifa. Syifa tidak perlu takut. Ayah akan tetap melaksanakan janji Ayah, putra sahabat Ayah memang sudah menerima perjodohan itu. Tapi, keputusan akhir perjodohan ini ada di tangan Syifa. Syifa bebas menentukan pilihan Syifa. Ayah dan Ibu tidak akan pernah memaksa Syifa untuk menerima perjodohan ini. Syifa pasti lebih tahu, mana yang terbaik untuk Syifa.”
Ada beban sangat besar yang telah terangkat dari pundak Syifa. Namun di sisi lain, Syifa berkali-kali lipat lebih bingung untuk menentukan keputusan tentang perjodohannya. Ada banyak hati yang terlibat, ada banyak orang yang memberi kepercayaan pada Syifa, dan sekarang ada banyak keraguan dalam penantiannya.
“Satu bulan. Syifa perlu waktu satu bulan untuk menentukan keputusan ini Yah, Bu,” tanpa memiliki keberanian memandang wajah kedua orang tuanya. Ayah Syifa hanya menganggukkan kepala dan tersenyum. Beliau memahami bahwa sekarang putrinya dihadapkan pada dua pilihan dan kenyataan yang mungkin sangat berat dalam hidupnya.
Keesokan harinya, Syifa masih berharap tadi malam hanyalah sebuah mimpi, yang entah itu  buruk atau baik. Syifa duduk di atas tempat tidurnya dengan dua pandangan penuh keraguan. Wajah yang biasanya penuh harapan, kini menjadi wajah yang penuh kebimbangan.
“Ya Allah, bagaimana Syifa harus memilih?” Syifa menghapus air mata yang mulai menetes.
Beberapa saat kemudian, ibu Syifa mengetuk pintu kamar Syifa dan perlahan mendekati putrinya. Beliau membelai lembut putrinya dan berusaha sedikit meringankan beban yang ada di pundak putrinya.
“Bu, apa Syifa harus tetap memilih?”
“Ibu tahu, ini semua sangat sulit untuk Syifa. Tapi dengan ini semua, Syifa bisa belajar untuk dewasa memilih setiap keputusan dalam hidup Syifa.”
“Tapi bagaimana kalau keputusan Syifa nanti salah Bu? Bagaimana kalau nanti Syifa menyakiti hati banyak orang, termasuk Ibu dan Ayah. Syifa takut Bu.”
“Siapa yang dapat menjamin kalau keputusan Syifa nanti benar ataupun salah? Setiap orang pasti pernah membuat kesalahan. Tapi saat itu pula, mereka sedang belajar. Syifa, kebenaran semua hanya datang dari Allah. Sedangkan manusia, berusaha agar keputusan mereka, perbuatan mereka benar di mata Allah. Sekarang Syifa sebaiknya salat istikharah, mohon petunjuk kepada Allah, agar Syifa dapat mengambil keputusan yang terbaik untuk Syifa,” mencium kening putrinya.
“Makasih Bu. Syifa nggak tahu harus bagaimana lagi kalau di samping Syifa nggak ada Ibu dan Ayah,” akhirnya senyuman dapat terkembang di wajah Syifa. Syifa mengikuti saran ibunya untuk salat istikharah, memohon petunjuk kepada Allah SWT, agar dapat mengambil keputusan yang terbaik untuk hal terbesar dalam hidup Syifa. Di dalam doa Syifa,
“Ya Allah, sekarang hamba tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi semua ini. Hamba  benar-benar takut kalau hamba akan menyakiti orang-orang yang hamba sayang. Hamba hanya dapat memohon petunjuk kepada Engkau ya Allah. Ya Allah, Engkau pasti lebih mengetahui hati hamba. Engkaulah pemilik hati seluruh umat manusia di dunia ini. Saat ini hati hamba berada di antara dua pilihan. Antara membahagiakan hati banyak orang dengan menerima perjodohan ini atau menunggu cinta hamba yang sampai sekarang hamba pun masih belum mampu mengikhlaskan dia untuk memilih yang cinta lain. Antara mempererat tali silaturahmi dua orang sahabat atau mengharap sebuah ikatan antara dua hati yang belum pasti. Sampai saat ini, hamba masih belum mampu mengambil keputusan. Hanya kepada Engkaulah hamba memohon petunjuk tentang pilihan hamba nanti ya Allah. Hanya kepada Engkaulah hamba berserah dan berpasrah. Hamba yakin dan tidak pernah berhenti untuk kehilangan harapanbahwa suatu saat nanti, Engkau pasti akan menunjukkan jalan yang terbaik untuk hamba dan orang-orang yang hamba sayangi….”
Hati mempunyai kebebasan memilih cinta. Dan cinta yang tumbuh di hati manusia karena takdir Allah SWT. Setiap takdir yang dialami manusia adalah keajaiban. Dan cinta, adalah sebuah keajaiban….
Hari demi hari kembali harus berlalu, dua puluh sembilan hari telah berlalu untuk Syifa. Akan tetapi, Syifa masih belum mengambil keputusan. Pada malam ke dua puluh sembilan ini, perasaan dan pikiran Syifa sangat kalut. Setiap hari, Syifa masih menanti kedatangan Ilham. Sejak Syifa mengetahui rencana perjodohannya, dia masih belum mengubah kebiasaannya yang mengharap kehadiran Ilham di taman, meskipun Ilham belum pernah menyadari Syifa dan perasaannya, hingga harapan itu perlahan mulai hilang. Pada momen penting dalam hidup Syifa ini, Allah memberi kado kecil untuk Syifa, kabar dari sahabat kesayangannya, Nuri. Ibu Syifa memberi sebuah amplop coklat yang cukup berat dan datang pada saat yang tepat (meskipun harus pukul sebelas malam). Ternyata, Pak Pos di samping rumah Syifa dengan senang hati mengirimkan surat untuk Syifa.
Syifa membuka surat yang berstempel super-super kilat dengan nama pengirim yang sangat besar “NURI ANGGRAINI PUSPITA SARI”. Belum membaca surat itu, senyum sudah terkembang di wajah Syifa. Ternyata bukan sepucuk surat di dalam amplop itu, tapi sekeping CD bergambar Patrick Star. Syifa membolik-balik CD itu dan sangat penasaran dengan isinya. Syifa segera membuka laptopnya, menunggu beberapa saat booting start process, dan memutar CD itu. Suara pertama yang terdengar adalah salam Nuri dengan nada penuh semangat yang cukup mengagetkan Syifa, “Nuri! Mau di Jogja sama di Banjarmasin sama aja ni anak. Fiuh!” Dan…
“Syifa…! Kamu pasti kangen banget deh sama aku. Hehe, maaf ya Fa aku baru bisa ngasih kabar kamu sekarang. Soalnya di Banjarmasin aku sibuk banget. Jeng…jeng…! Kakak aku dua minggu lagi menikah Fa. Udah gitu, aku masih bingung cari cara biar aku bisa ngomong panjang lebaaar sama kamu. Sampai akhirnya, aku bisa nemuin CD ini Fa.
Email kamu udah aku terima Fa, salam balik buat keluarga kamu ya Fa. Aku sama keluarga aku alhamdulillah juga sehat. Terus, besok pas wisuda aku bakal bawa kejutan buat kamu, soalnya aku bakal bawa seseorang yang sangat spesial dalam hidup aku baru-baru ini, dia calon tun…. Syifa, aku keceplosan lagi, ya ampun! Nggak jadi kejutan dong. Tapi nggak apa-apa deh.
Fa, gimana, kamu masih setia nunggu Ilham? Sebenernya, aku kagum sama prinsip kamu buat nunggu Ilham. Kamu percaya pada hati kamu, meskipun dia nggak pernah tahu. Awalnya aku ngerasa kalau itu konyol, tapi aku tahu kamu tulus sayang sama Ilham. Kalau kamu bisa jujur sama hati kamu tentang cinta kamu, kenapa kamu harus takut untuk jujur pada Ilham Fa? Perjuangin cinta kamu ya Fa! Jangan takut mengejar cinta kamu!
‘Hatiku memiliki kebebasan untuk memilih cinta. Tapi cinta itu memang penuh misteri, karena suatu saat hatiku juga harus mengalah untuk cinta.’ Meskipun sebenarnya aku belum memahami syair itu, tapi cocokkan buat kamu Fa, Syifa yang sedang dalam penantian cinta. Syifa, kamu sahabat aku yang paling aku sayang. Kamu udah seperti adikku sendiri. Karena itu, aku harap suatu saat nanti kamu bisa mendapatkan cinta kamu. Syifa, Syifa! Semangat Syifa!
Fa, ini dulu ya, see you next moon. Wassalamu’alaikum”
Mendengar pesan Nuri dari dalam CD itu, Syifa seolah menemukan sebuah jawaban untuk permasalahannya. Hampir dua puluh empat kali Syifa memutar CD itu. Mungkin di dalam pesan Nuri ada petunjuk dari Allah untuk pilihan Syifa, “Ya Allah, apa keputusan ini yang harus Syifa ambil. ‘Suatu saat hatiku juga harus mengalah untuk cinta.’ Terima kasih ya Allah.”
Keesokan harinya, Syifa telah memantapkan hati mengambil keputusan itu. Di hadapan kedua orang tuanya yang sudah berharap-harap cemas, Syifa akan segera menyampaikan keputusannya.
“Ayah, Ibu Syifa sudah membuat keputusan,” sambil meremas jari-jarinya.
“Alhamdulillah. Apa keputusan kamu Nak?” ayah Syifa tampak begitu berharap.
Sebelum menyampaikan keputusannya, Syifa memandang dalam-dalam wajah ibunya, “Syifa tahu, Ayah dan Ibu pasti mengharapkan kebaikan untuk Syifa melalui perjodohan ini. Insyaallah, Syifa bersedia menerima perjodohan ini. Putra sahabat Ayah sudah mempercayakan pilihan jodohnya kepada kedua orang tuanya. Itu sudah cukup bagi Syifa untuk tahu kalau dia pasti bisa menjaga kepercayaan dan hati kedua orang tuanya. Insyaallah, dia bisa menjaga hatinya untuk Allah. Syifa memang belum mencintai dia, tapi Syifa akan berusaha mencintai dia. Syifa dan dia insyallah bertemu dengan jalan terbaik karena Allah.”
“Bagaimana dengan cinta yang selama ini kamu tunggu Syifa?” ibu Syifa mengkhawatirkan perasaan dan kebahagiaan Syifa karena perjodohan ini.
“Insyaallah ini pilihan hati Syifa Bu. Selama ini Syifa sudah terlalu lama bersahabat dengan penantian Syifa. Walaupun kami belum berjodoh, inilah jalan terbaik untuk kami. Syifa yakin, pasti dia akan menemukan cintanya di suatu tempat dan mungkin bukan Syifa, demikian juga Syifa. Syifa mengalah untuk melepas cinta Syifa pergi, demi kebahagiaan kami dan kebahagiaan hati yang selama ini selalu menyayangi kami,” Syifa berusaha menahan air matanya untuk tidak menetes.
“Ternyata putri kecil Ayah sekarang sudah dewasa, Bu,” sambil tersenyum bahagia, “Tapi Syifa tetap menjadi putri kecil Ayah sampai kapanpun.” Kebahagiaan kembali hadir di dalam keluarga Syifa, setelah melewati hari-hari yang penuh kegalauan.
“Anak sahabat Ayah itu, orangnya seperti apa Yah? Terus, namanya siapa?”
“Nanti malam, kamu akan tahu Syifa,” sambil tersenyum bahagia.
“Nanti malam Yah?”
Lepas dari hari penuh kegalauan, Syifa harus menyapa hari penuh rasa deg-degan. Seharian, ayah dan ibu Syifa membuat persiapan untuk menyambut keluarga sahabat ayah Syifa. Syifa tidak mampu melakukan apapun selain duduk, tiduran, memandangi bayangannya di cermin, dan beberapa kali mendengarkan pesan Nuri. Karena terlalu bingung dengan keadaan di dalam rumah dan perasaan aneh di dalam hati Syifa, Syifa berjalan-jalan di sekitar taman yang menjadi saksi perjalanan cinta Syifa untuk Ilham. Di taman itu pula, perasaan Syifa yang campur aduk antara bahagia, sedih, kecewa, takut, ragu, namun masih begitu indah harus hadir kembali.
Ketika Syifa berjalan menuju ayunan yang ada di sudut taman, Syifa menghentikan langkahnya. Jantungnya berdetak begitu kencang, beban yang begitu berat kembali berada di pundak Syifa saat melihat Ilham ada di atas ayunan kesayangannya. Tidak ada gitar yang dulu lagi di tangan Ilham. Sedikit perubahan tampak dari sosok Ilham dengan kacamata yang baru dilepasnya. Lampu merah kembali menghadang Syifa, namun kali ini lampu merah itu memberikan senyuman yang begitu hangat untuk Syifa. Di dalam hati Syifa seperti ada sesuatu yang memberontak bahwa keputusan yang telah Syifa ambil adalah salah. Namun, mengingat kebahagiaan kedua orangtuanya, hati Syifa menjadi sedikit lebih tenang dan dalam hatinya, “Di depan sana, ada seseorang yang selalu ada dalam penantianku selama ini. Ya Allah, izinkanlah hamba melakukan ini. Mudah-mudahan ini yang terbaik untuk kami. Kak Ilham, mungkin sampai sekarang Kakak belum menyadari perasaan Syifa untuk Kakak. Tapi senyuman Kakak untuk Syifa ini, lebih penting dari sekadar Kakak menyadari perasaan Syifa. Mulai hari ini, Syifa akan berusaha melepaskan cinta Syifa untuk Kakak.” Dan untuk pertama kalinya, Syifa memberikan senyuman hangat untuk pujaan hatinya. Syifa pulang ke rumah dengan perasaan bahagia setelah bertemu Ilham. Karena itu artinya, mimpinya bertemu kembali dengan Ilham telah terwujud hari ini. Memasuki pintu rumah, ibu Syifa langsung memberikan Syifa pakaian serba baru. Rok panjang berwarna putih dari kain sutera, baju pink dengan border yang manis, dan kerudung putih. Ternyata ada banyak hal yang harus Syifa lakukan untuk menyambut keluarga sahabat ayahnya.
Dan malam yang dinanti akhirnya tiba. Suara mobil terdengar berhenti di depan rumah Syifa. Satu persatu, terdengar pintu mobil dibuka, ditutup kembali, dan….
“Assalamu’alaikum,” terdengar salam dari luar rumah. Pintu rumah segera dibuka oleh ayah Syifa dengan cepat.
“Wa’alaikumsalam,” pelukan hangat penuh kebahagiaan antara dua sahabat lama pun terjadi. Keluarga Syifa dan sahabat Ayah Syifa terlihat begitu akrab, seolah tidak pernah ada ruang dan waktu yang memisahkan mereka.
Syifa masih belum berani keluar dari kamarnya. Perlahan, Syifa membuka pintu kamarnya. Sedikit demi sedikit, Syifa berhasil mengamati orang-orang yang baru datang ke rumahnya. Syifa melihat dua orang yang terlihat seperti sepasang suami istri seumuran orang tua Syifa, mereka berdua pasti sahabat ayah Syifa. Di samping mereka, ada seorang perempuan cantik berkerudung biru langit, seorang laki-laki berkaca mata yang mungkin lebih tua dari perempuan itu menggendong seorang bayi, dan seseorang lagi yang kurang begitu jelas terlihat karena terhalang oleh tubuh ayah Syifa yang cukup tambun. Saat Syifa dipanggil untuk segera berkenalan dengan rombongan tamu istimewa itu, Syifa masih belum ingin beranjak dari tempatnya berdiri. Sampai akhirnya, ibu Syifa harus menggandeng Syifa keluar dari kamarnya. Memasuki ruang tamu, Syifa masih menundukkan kepalanya dan perlahan memandang satu persatu orang di ruangan itu.
“Ini Syifa ya? Cantik kan Ham? Syifa, anak tante ini belum pernah punya pacar loh. Saat tante mempertanyakan sikap anak tante itu, dia selalu bilang seperti ini ke tante, ‘Sudah ada hati seorang gadis yang harus Ilham jaga Umi’, dan tante selalu berharap agar Allah menggariskan anak tante dan gadis itu untuk berjodoh. Syifa, gadis itu ada di hadapan tante sekarang,” Syifa hanya bisa tersenyum malu mendengar kata-kata istri sahabat ayahnya itu dan berusaha memperjelas pendengarannya karena ada nama seseorang yang pernah menjadi pujaan hatinya.
Saat Syifa memandang ke arah sosok laki-laki yang sejak tadi belum berhasil dia amati, hanya satu kata yang dapat terucap dari bibir Syifa, “Allahuakbar!”
Itulah salah satu takdir cinta. Putra sahabat ayah Syifa yang akan dijodohkan dengan Syifa adalah Ilham. Ilham, pemuda yang selalu ada dalam penantian Syifa. Selama ini, Syifa menanti cinta Ilham, menjaga hatinya untuk Ilham, sampai akhirnya merelakan perasaannya itu untuk pergi. Dan takdirlah yang mempertemukan Syifa dengan Ilham, seorang pemuda yang menjaga hati Syifa. Siapa pun tidak pernah tahu tentang takdir dan cinta. Syifa memang berusaha menanti cintanya dengan cara yang rumit. Namun Syifa mendapatkan cintanya dengan cara yang sederhana. Karena itulah, cinta yang telah Allah anugerahkan untuk manusia selalu penuh keajaiban.
Pertemuan dua hati yang akhirnya melahirkan rasa cinta memang sangat indah. Suatu saat nanti setiap manusia pasti akan bertemu jodohnya, entah di dunia ataupun di akhirat. Namun, Allah pasti mempertemukan hati hamba-Nya dengan cara yang paling baik dan paling modern yang tidak dapat dicapai oleh peradaban manusia manapun, karena cinta selalu melibatkan dua hati. Karena cinta yang indah selalu membuat hati pemiliknya semakin mencintai Rabbnya, membimbing hati pemiliknya untuk selalu menjadi lebih baik dan bermanfaat.


PEMBANGUNAN EKONOMI UMAT
MELALUI PELESTARIAN SUMBER DAYA AIR
UNTUK MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN

[1]Harrys Pratama Teguh

ABSTRACT

In everyday life, Water is the main source of economic development of mankind, such as in agriculture to realize the ever increasing needs of the community coupled with skyrocketing prices of products based on crop yields without the factors causing high prices of products. While in the long term the government party must lead the people to prosperity, spiritual and physical well-being, and must face the long-term problems such as application of the legal aspects of Islamic economics in preserving the potential utilization of water resources. This paper aims first, to know the main grip of mankind to preserve water resources to the optimum. Second, know the legal basis which confirms the utilization of water resources devoted to the maximum for the prosperity of the people. and third, providing steps and solutions to avoid a water crisis that will most likely occur in the future.
At the writing of scientific papers that we use is the correlative study, which is a correlative research is research that links the existing data. In accordance with the understanding that we connect the data that we can from each other. In addition we are also linking the existing data with the theoretical basis that we use. So expect our research can be a proper research and appropriate.
With the article titled "Economic Development Through People of Preservation Water Resources To Achieve Prosperity" expected Based on this has given rise to concerns for developing a new approach to the economy in such a limited circle of concern to develop an academic discipline is generally called the Islamic economic order. Islamic economic order based on the strong foundation of Tawheed (Oneness of God), the caliphate (representatives), and 'is the (justice). The third premise is a unity of inter-related. The above matters if it is associated with natural resources including water resources conservation created should be used to achieve welfare for all Muslims who love the world environment. Following the government's role in the new economic order that needs to be understood, at least include four things :
1.        Maximalitation level of utilization of water resources.
2.        Minimalitation distributive inequalities.
3.        Maximalitation job creation.
4.        Maximalitation supervision.

Keywords: Islamic Economic Order, Welfare, Water Resources Utilization, and Environmental Protection.


PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari air merupakan sumber utama pembangunan ekonomi umat manusia seperti pertanian untuk mewujudkan kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat yang disertai dengan melonjaknya harga produk hasil panen tanpa didasari faktor penyebab mahalnya harga produk.[2] Sementara dalam jangka panjang pihak pemerintah harus mengantarkan masyarakat kepada kemakmuran, kesejahteraan lahir dan bathin, serta harus menghadapi masalah jangka panjang seperti penerapan aspek hukum ekonomi Islam dalam melestarikan pendayagunaan potensi sumber daya air. Sementara dalam jangka pendek pemerintah dituntut untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif terhadap seluruh pihak.
Persoalan ekonomi sebenarnya mengalami perkembangan yang cukup strategis, demikian juga upaya untuk memecahkan berbagai persoalan ekonomi seperti Pelestarian Sumber Daya Air yang menjadi moment utama selama perjuangan manusia di sepanjang kehidupan baik yang terekam oleh sejarah maupun tidak. Apabila persoalan ekonomi dikaitkan dengan pelestarian sumber daya air yang dihadapi umat manusia, maka terlihat suatu asumsi seperti munculnya suatu pandangan yang menempatkan aspek material yang bebas dari dimensi nilai pada posisi yang dominan. Dampak yang ditimbulkan dari cara pandang inilah yang kemudian membawa malapetaka dan bencana dalam kehidupan sosial masyarakat seperti eksploitasi dan perusakan lingkungan hidup, disparatis pendapatan dan kekayaan antar golongan dalam masyarakat dan antarnegara di dunia, lunturnya sikap kebersamaan dan persaudaraan, timbulnya berbagai penyakit sosial (social disease) disertai dengan muncul suatu revolusi sosial yang anarkis dan sebagainya.
Pemanfaatan sumber daya air sejalan dengan perkembangan peradaban manusia yang telah dicatat dalam prasasti Tugu pada masa kerajaan Tarumanegara pada abad ke 6 sebagaimana yang telah dilaksanakan penggalian saluran untuk mengalirkan air ke kotaraja dan upaya pengendalian banjir. Mengingat fakta dilapangan masih banyak masyarakat yang tidak memahami makna dari pelestarian dan pendayagunaan sumber daya air secara hemat dan praktis. Melihat pemakaian air yang tidak perlu dan berlebihan secara terus menerus dari tahun ke tahun, diperkirakan pada tahun 2019 negara akan mengalami krisis air yang hebat atas faktor meningkatnya populasi dan eksploitasi air tanah yang berlebih. Oleh karena itu, hal tersebut dinilai perlu dipelajari dengan penuh cermat dan keseriusan untuk diselesaikan dengan baik dan tepat minimal mengurangi angka pemakaian air diluar batas normal dengan judul tulisan ”Pembangunan Ekonomi Umat Melalui Pelestarian Sumber Daya Air Untuk Mewujudkan Kesejahteraan” melalui tulisan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi setiap umat manusia agar potensi sumber daya air dapat dimanfaatkan dengan optimal dan memuaskan dimuka perekonomian nasional.

IDENTIFIKASI MASALAH
1.      Apa yang menjadi pegangan utama umat manusia untuk melestarikan sumber daya air dengan optimal ?
2.      Apa landasan hukum yang menegaskan pendayagunaan sumber daya air harus ditujukan dengan sebesar-besarnya untuk mewujudkan kemakmuran rakyat ?
3.      Bagaimana langkah dan solusi untuk menghindari krisis air yang kemungkinan besar akan terjadi pada waktu yang akan datang ?

TUJUAN PENULISAN
1.      Mengetahui pegangan utama umat manusia untuk melestarikan sumber daya air dengan optimal.
2.      Mengetahui landasan hukum yang menegaskan pendayagunaan sumber daya air harus ditujukan dengan sebesar-besarnya untuk mewujudkan kemakmuran rakyat.
3.      Memberikan langkah dan solusi untuk menghindari krisis air yang kemungkinan besar akan terjadi pada waktu yang akan datang.

METODE PENULISAN        

PEMBAHASAN
Sebelum penulis membahas mengenai aspek hukum Ekonomi Islam terhadap sumber daya air, penulis akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai Resistensi terhadap globalisasi dan sistem ekonomi kapitalis sebagai motor penggerak utama globalisasi yang sering disuarakan dari jantung kapitalisme itu sendiri. Berbagai peristiwa dekade terakhir, terutama krisis ekonomi tahun 1997 di Asia menimbulkan kesadaran bahwa tatanan ekonomi dunia saat ini mencerminkan ketidak adilan struktur ekonomi pada negara berkembang. Beberapa alternatif telah dimajukan, seperti green economy. Belakangan banyak kalangan, termasuk ahli ekonomi Barat mulai melirik sistem ekonomi yang ditawarkan oleh Islam sebagai pilar tatanan ekonomi baru dunia. Tatanan ekonomi baru tersebut harus mencerminkan keadilan, pandangan yang sejajar terhadap manusia dan moralitas. Tatanan ekonomi yang ditawarkan Islam dilandasi dengan fondasi yang kuat, yaitu tauhid (keesaan Tuhan), khilafah (perwakilan), dan ‘adalah (keadilan). Ketiga landasan tersebut merupakan satu kesatuan yang saling terkait. Tauhid merupakan muara dari semua pandangan dunia Islam. Tauhid mengandung arti alam semesta didesain dan diciptakan secara sadar oleh Tuhan Yang Mahakuasa dan tidak terjadi secara kebetulan atau aksiden. Hal tersebut sebagaimana telah ditegaskan Q.S. al-Baqarah Ayat 30 yang  :
Artinya : 
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Q.S. al-Baqarah Ayat 30).

Hal tersebut diatas jika dikaitkan dengan sumber daya alam termasuk didalamnya pelestarian sumber daya air yang diciptakan harus dimanfaatkan untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh umat Islam yang mencintai dunia lingkungan hidup. Pada sisi ini, jelas bertentangan dengan konsep self interest kapitalisme. Implikasi dari pandangan tersebut bahwa persaudaraan universal yang kemudian menimbulkan persamaan sosial dan menjadikan sumber daya alam sebagai amanah untuk dilestarikan dan dimanfaatkan dengan maksimal dalam menjalankan kehidupan. Pandangan ini tidak akan terlaksana secara substansial tanpa dibarengi dengan keadilan sosial ekonomi. Penegakan keadilan dan penghapusan semua bentuk ketidakadilan sebagaimana telah ditekankan dalam al-Qur’an sebagai misi utama Rasul Allah yang terdapat pada Al-Qur’an  Q.S. A-Hadiid, Ayat 25 yang :
Artinya :
Sesungguhnya kami Telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan Telah kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. dan kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Q.S. A-Hadiid, Ayat 25).

Dari landasan beberapa ayat Al-Qur’an diatas dapat dilihat bahwa ada keseimbangan dari faktor ekonomi termasuk didalamnya pemisahan yang radikal antara sektor moneter dengan sektor riil menjadi ketidak adilan dan ketidak merataan. Peranan pemerintah dalam tatanan ekonomi baru tersebut, paling tidak mencakup empat hal :
1.      Maksimalisasi tingkat pemanfaatan sumber daya Alam. Pemanfaatan sumber daya Alam tersebut harus memperhatikan prinsip kesejajaran dan keseimbangan (equilibrium). Dalam ekonomi Islam konsep al-‘adl dan al-ihsan menunjukkan suatu keadaan keseimbangan dan kesejajaran sosial :
Artinya : 
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Q.S. an-Nahl, Ayat  90).

Hal ini penting, karena apabila terjadi pemanfaatan yang tidak seimbang atau pemborosan yang terjadi atas kerusakan alam yang pada gilirannya adalah ketidak seimbangan sunnatullah (hukum alam). Kerugiannya juga pada manusia dalam jangka panjang.
2.      Minimalisasi kesenjangan distributif. Kegiatan tersebut mempunyai tujuan yang berkaitan dengan prinsip dasar ekonomi Islam yaitu keadilan distributif. Keadilan distributif didefinisikan sebagai suatu distribusi pendapatan dan kekayaan yang tinggi, sesuai dengan norma-norma fairness yang diterima secara universal.
3.      Maksimalisasi penciptaan lapangan kerja. Pertumbuhan ekonomi merupakan sarana untuk mencapai keadilan distributif, sebagian karena mampu menciptakan kesempatan kerja yang lebih banyak daripada yang mungkin bisa diciptakan dalam keadaan ekonomi statis seperti penciptaan lapangan kerja yang harus diimbangi dengan pemberian tingkat upah yang adil berdasarkan hasil perkembangan usaha produktif yang dipegang oleh setiap pengusaha. Pemerintah dalam hal ini berkewajiban untuk memastikan kesempatan kerja yang luas melalui berbagai kegiatan ekonomi yang aktif pada sektor yang mampu menyerap semua lapisan.
4.      Maksimalisasi pengawasan. Salah satu bagian integral dari kesatuan sistem ekonomi Islam adalah lembaga Hisbah. Peranannya, sebagaimana dirumuskan Ibn Taimiyah,[3] Lembaga Hisbah adalah lembaga pengawasan terhadap penyimpangan dari kegiatan ekonomi. Dalam pemerintahan yang modern saat ini, lembaga tersebut dapat diaplikasikan dengan modefikasi tertentu yang mempunyai tugas dan wewenang yang sama. Pengawasan dalam ekonomi Islam adalah penting, karena suatu sistem ekonomi yang adil tidak akan berjalan apabila terjadi kecurangan yang disebabkan oleh perilaku menyimpang pelaku ekonomi.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ekonomi Islam dapat dijadikan alternatif sebagai sistem perekonomian umat Islam yang mampu membawa masyarakat untuk menuju kesejahteraan dan kemakmuran sebagaimana yang diharapkan oleh Agama Islam, karena dibangun tiga landasan utama yang mencerminkan dan menjamin keadilan berjalan. Demikian juga dalam melestarikan sumber daya air, Air sebagai sumber daya alam berupa persediaan dan sekaligus sebagai aliran dan pengisian kembali oleh air hujan.
Ekonomi sumber daya air adalah suatu studi tentang proses bagaimana manusia mengambil keputusan, sehingga sumber daya air yang langka dapat dimanfaatkan secara optimal.[4] Persediaan dan biaya-biaya untuk mengeksploitasi sumber daya air akan mempengaruhi ekonomi makro suatu negara. Keseimbangan perdagangan misalnya, ikut dipengaruhi oleh sumber daya air terutama untuk ekspor hasil pertanian. Pengembangan sumberdaya air meliputi pengawasan aliran air, sehingga pola pemasokan air memenuhi pola permintaan di seluruh ruang dan waktu.
Sebagaimana diketahui penanganan sumberdaya air biasanya dilakukan oleh manajemen pemerintah yang membidanginya  dengan meliputi beberapa tujuan nasional yakni efsiensi ekonomi, pengawasan kualitas lingkungan, distribusi pendapatan antar daerah, dan menyelamatkan sekelompok masyarakat tertentu yang bermukim di suatu daerah.
Pemanfaatan sumber daya air umumnya ditujukan untuk memasok keperluan kota, irigasi, pembangkit tenaga listrik pengawasan banjir, rekreasi, pengawasan pencemaran, pelayaran, perikanan, dan untuk konservasi binatang di hutan. Mengingat pentingnya pemanfaatan sumberdaya air ini secara optimal, maka pertimbangan untuk penggunaan ganda harus batasi, meskipun dengan proyek kecil. Sumber daya air saat ini menjadi problematika besar bagi Negara berkembang termasuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berkedudukan sebagai Negara terluas (peringkat 15) dunia termasuk didalamnya kaya akan sumber daya alam dengan kapasitas 325.350 jenis flora dan fauna.[5] Pada tulisan ini, penulis akan mencoba menguraikan beberapa problematika yang terjadi pada pola pemanfaatan potensi sumber daya air, diantaranya :
A.     Adanya Gejala Krisis Air   
Masalah yang muncul banyak terletak pada bagaimana manajemen sumberdaya air harus dioptimalkan dengan terbatasnya segala sumber daya yang ada.  Erat kaitannya dengan masalah tersebut yang sering muncul adalah problematika distribusi kuantitas, kualitas, dan modus pemakaian yang sangat bervariasi. Dengan demikian sering terjadi di suatu lokasi terdapat kelebihan air, sedangkan di tempat lain menderita kekurangan air. Berikut rumusan strategi pengembangan sektor air bersih dispesifikkan ke dalam aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Hal tersebut diharapkan akan menghasilkan dampak positif dalam masing-masing aspek secara proporsional, berkelanjutan, dan membawa peningkatan kesejahteraan (social benefit).
Rumusan pada dasarnya mendeskripsikan strategi pengelolaan sumberdaya air dari Le Moigne et al. (1994), yang terdiri dua kegiatan penting yakni analisis sumberdaya air, yaitu mengkaji aspek fisik dan faktor-faktor yang mempengaruhi sumberdaya air, dan pendefinisian strategi, yaitu proses penetapan bentuk-bentuk pengelolaan sumberdaya air.
B.     Degradasi Sumber Daya Air
Berbagai keluhan yang disertai protes masyarakat terkait adanya pencemaran air yang semakin bermuculan sebagai akibat dari adanya limbah industri termasuk limbah dari industri pariwisata seperti hotel dan restoran. Kecenderungan menurunnya kualitas air seiring dengan meningkatnya perkembangan industri yang mengeluarkan limbah, pertumbuhan perumahan secara eksponensial dan pertambahan penggunaan bahan organik sintetis. Di Bali misalnya pemerhati lingkungan telah mendesak pihak hotel untuk melakukan program penanggulangan limbah karena akumulasi limbah hotel dan rumah tangga di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar diyakini sudah tergolong memprihatinkan yaitu mencapai 24%, sedangkan pencemaran air sungai di seluruh Bali secara umum mencapai 7%.[6]
Intruksi air laut telah terjadi atas faktor eksploitasi yang berlebihan terhadap air tanah. Pembabatan hutan dengan semena-mena tanpa kendali akan mengakibatkan berkurangnya kuantitas air yang tidak jarang menimbulkan banjir terutama pada musim penghujan. Air tanah dan air permukaan mulai terkontaminasi dari berbagai zat kimia yang mengandung racun dari limbah industry tersebut, baik limbahan dari saluran irigasi yang mengandung pestisida maupun limbah domestik. Degradasi sumberdaya air sangat berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. Air irigasi yang tercemar akan berakibat buruk terhadap hasil panen, sehingga secara keseluruhan tanaman padi persawahan akan menimbulkan pencemaran sumberdaya air yang mengancam kesejahteraan masyarakat.

C.    Persaingan Semakin Tajam antar Pengguna Air
Persaingan yang menjurus konflik kepentingan dalam pemanfaatan air antara berbagai sektor seperti sektor pertanian dan non-petanian akan lebih cenderung meningkat pada masa mendatang. Hal ini dapat dipahami karena air yang sebelumnya dimanfaatkan lebih banyak untuk pertanian, perlu dicatat pada masa mendatang sumber daya air harus dialokasikan terhadap sektor non-prtanian. Sebenarnya konflik akibat persaingan dalam pemanfaatan air sudah sering terjadi pada kalangan petani padi, terutama pada wilayah yang sedang mengalami kelangkaan air. Konflik antar petani dalam pemanfaatan air irigasi biasanya terjadi antara kelompok petani hulu dan kelompok petani hilir, namun pada umumnya tidak berkepanjangan dan tidak sampai menimbulkan bentrokan fisik. Akibat persaingan yang semakin tajam dalam pemanfaatan air maka di masa yang akan datang konflik akan terus bermunculan tidak hanya antar petani tetapi antara kelompok petani melawan kelompok bukan petani yang ikut terhambat akan kebutuhan air. [7]
Hasil penelitian JICA seperti dikutip oleh Kurnia,[8] menunjukkan bahwa mulai tahun 1991 sampai tahun 2020 diperkirakan konversi lahan beririgasi di seluruh Indonesia akan mencapai 807.500 ha (untuk Jawa sekitar 680.000 ha; Bali 30.000 ha; Sumatera 62.500 ha dan Sulawesi 35.000 ha). Khusus untuk Bali, dalam beberapa tahun belakangan ini areal persawahan yang telah beralih fungsi diperkirakan mencapai 1.000 ha per tahun. Penciutan lahan sawah ini sungguh pesat, lebih-lebih wilayah sekitar kota yang dipicu oleh harga tanah semakin meroket, sehingga pemilik sawah tergoda untuk menjual sawahnya.

D.    Menyusutnya Lahan Pertanian Beririgasi Akibat Alih Fungsi
Alih fungsi lahan pertanian untuk tujuan non-pertanian merupakan proses yang tidak terhindarkan. Hal ini disebabkan karena adanya ledakan jumlah penduduk yang menunutut pertambahan pemukiman, transportasi, pembangunan industri dan berbagai prasarana fisik untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia modern yang semuanya itu niscaya membutuhkan tanah. Misalnya selama kurun waktu 1984-1990 di Jawa Barat telah terjadi alih fungsi lahan sawah untuk non-pertanian seluas 27.768 ha atau rata-rata 5.554 ha per tahun. Selanjutnya di Jawa dan Bali, selama periode 1981-1986 luas lahan sawah yang telah beralih fungsi mencapai 224.184 ha dengan rata-rata 37.364 ha / tahun. Dari sawah seluas 224.184 ha itu 55,77% masih dipergunakan sebagai lahan pertanian sedangkan sisanya sebanyak 44,23 % dialih fungsikan ke non-pertanian.
E.     Kurang Jelasnya Ketentuan Hak Penguasaan Air
Pemerintah sebagaimana yang penulis cermati dari beberapa media informasi telah menetapkan susunan prioritas penggunaan air dengan urutan sebagai berikut :
1)      Air minum, rumah tangga, pertahanan, keamanan, peribadatan, dan berbagai usaha perkotaan.
2)      Pertanian dalam arti luas yaitu termasuk peternakan, perkebunan dan Perikanan.
3)      Ketenagaan, industri, pertambangan, lalu lintas dan rekreasi.
Akan tetapi pada kenyataannya urutan prioritas yang kedua yakni pertanian sering dikalahkan oleh urutan prioritas ketiga seperti misalnya untuk kebutuhan pembangunan industri. Dalam hal seperti ini, keberlanjutan pertanian hilir akan membawa akibat pemberian izin oleh pemerintah atas pengambilan air di hulu sungai untuk keperluan industri yang tidak jarang menimbulkan pencemaran sungai. Perangkat peraturan dan perundang-undangan yang berlaku saat ini dinilai belum tegas dan eksplisit dalam memberikan jaminan kepastian hukum dalam memperoleh hak guna air kepada petani yang sudah berlangsung secara turun temurun.
Para petani yang sudah berabad-abad memanfaatkan air sungai untuk keperluan irigasi dalam posisi yang lemah. Jika ada pendatang baru seperti misalnya PDAM atau bahkan pengusaha air minum kemasan yang mengambil air di hulu sungai, maka terpaksa harus mengalah dengan resiko tersebut yaitu pertanian akan mengalami gagal panen dan tidak bisa melanjutkan usaha tani atas faktor kekurangan air.
F.      Bahan Baku Produksi Air Bersih
Bahan baku produksi air minum berasal dari air tanah termasuk air sumber dan air permukaan (sungai, dan danau). Menurut perspektif historis antara tahun 1978-1984 penggunaan air tanah sekitar 52 % sebagai bahan baku air PAM. Angka ini jauh di atas pemakaian sungai yang hanya 23 % digunakan sebagai sumber bahan baku. Sementara itu penduduk yang menggunakan sumur air tanah menghadapi beberapa aspek negatif seperti mudah tercemar dan pemilikan tanah yang sempit menyebabkan jarak ideal antara sumur dan sumur peresap minimal 15 m sulit dipenuhi.
Mengingat kecenderungan penggunaan air sungai sebagai bahan baku air tampak mengalami peningkatan, oleh karena itu pemerintah harus mengambil langkah pengamanan terhadap sungai sebagai sumber air PAM agar tidak tercemar. Dalam jangka pendek pencemaran akan membawa dampak negatif terhadap biaya produksi air bersih, dan dalam jangka panjang akan mengakibatkan penurunan produktivitas kerja penduduk akibat terkontaminasi dengan air yang tercemar.
Masalah pencemaran lingkungan yang berakibat kualitas SDA menurun karena pembangunan yang selama ini dilakukan secara konvesional, dengan cara memacu pertumbuhan dan aktivitas ekonomi sehingga mengakibatkan terjadi peningkatan eksploitasi sumber daya alam (SDA). Peningkatan eksploitasi SDA akan mengakibatkan kerusakan alam, tanah, air, udara dan keanekaragaman hayati baik secara langsung maupun bertahap.
Dari masalah inilah kemudian orang sadar betapa perlunya pemikiran untuk mempertimbangkan kelestarian SDA dan lingkungan agar pembangunan ini berkelanjutan. Konsep ini dikenal dengan “pembangunan berkelanjutan[9] yang menyatakan bahwa pembangunan ini harus memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Cukup banyak bukti menunjukkan adanya pencemaran sungai disetiap kota besar tanah air sehingga perlu ditanggulangi segera seperti kasus sungai Ciliwung di Jakarta, sungai Garang di Semarang, sungai Brantas di Surabaya dan beberapa sungai tertentu di luar Jawa.
Untuk itu sangatlah logis penelitian mengenai langkah tersebut, pertumbuhan industri yang semakin meningkat dan peningkatan intensifikasi pertanian dengan pemakaian lebih banyak pestisida yang diikuti dengan berkembangnya penduduk kota yang memberi pengaruh buruk kepada tingkat pencemaran air. Saat ini diperlukan pembangunan yang tepat dalam pengelolaan air sebagai sumber mineral sehingga air yang dieksploitasi besar-besaran tanpa memperhatikan konsep pelestariannya.
Berikut beberapa catatan yang kiranya perlu penulis uraikan agar permasalahan sumber daya air termasuk kemungkinan besar akan terjadinya krisis air dapat dihindarkan. Pelestarian dan perlindungan sumberdaya air untuk menjamin keberlanjutan tata air dan pada akhirnya juga keberlanjutan pertanian yang secara kuantitatif perlu ditingkatkan. Berikut beberapa langkah yang penulis uraikan : [10]
1)      Pelaksanaan analisa dampak lingkungan bagi proyek-proyek pembangunan atau investasi. Proyek yang secara potensial dapat mengganggu kelestarian sumberdaya air agar secara tegas dilarang atau dihentikan.
2)      Penerapan aturan siapa yang melakukan pencemaran dialah yang harus menanggung beban biaya penanggulangan pencemaran tersebut (polluters pay principle) dan kepada pelakunya juga harus dikenai sanksi sesuai aturan yang berlaku.
3)      Pengendalian pencemaran atas mutu sumberdaya air dengan cara antara lain:
a.       Pengolahan air tercemar pada sungai dan danau.
b.      Pengolahan air limbah pada sumber-sumber tercemar seperti pabrik dan pemukiman. Dan
c.       Pengembangan teknologi pengendalian pencemaran.
4)      Penerapan teknologi irigasi air limbah.[11] Teknologi ini telah berkembang pesat di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Israel dan bahkan India.
5)      Rehabilitasi kerusakan daerah hulu sungai (daerah tangkapan). Kerusakan daerah hulu sangat fatal karena dapat mengakibatkan banjir. Adanya erosi karena penggundulan hutan di daerah hulu berakibat pengendapan lumpur pada waduk dan bangunan irigasi. Rehabilitasi kerusakan daerah tangkapan dapat dilakukan antara lain melalui penghijauan dan reboisasi.
Dari analisis diatas dapat disimpulkan dalam pengembangan dan manajemen sumberdaya air meliputi beberapa tujuan nasional seperti efisiensi ekonomi, pengendalian kualitas lingkungan, distribusi pendapatan antar daerah, serta untuk memenuhi tujuan-tujuan khusus lainnya termasuk menyelamatkan sekelompok masyarakat tertentu yang bermukim di suatu daerah. Selama duapuluh tahun terakhir ini, Indonesia telah mengalami penurunan aliran mantap air sebanyak 26,4 %, suatu penurunan yang cukup drastis. Dilain pihak, dalam kurun waktu yang sama kebutuhan akan air bersih naik sekitar 50 %. Oleh karena itu pengendalian air permukaan menjadi semakin penting. Dengan desakan dan pinjaman (loans) dari lembaga internasional seperti Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia, proses reformasi sektor SDA dimulai sejak tahun 1999.   
Undang-undang no. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025[12] menegaskan rencana pembangunan nasional dalam 20 tahun ke depan dalam berbagai sektor pembangunan sebagai upaya menyabarkan dan mencapai tujuan nasional sebagaimana tersebut dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Visi dan Misi Pembangunan Nasional 2005-2025 adalah ”INDONESIA YANG MANDIRI, MAJU DAN MAKMUR” Adapun misi RPJ P 2005-2025 adalah :
1.      Mewujudkan masyarakat yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya dan beradab berdasarkan falsafat Pancasila.
2.      Mewujudkan bangsa yang berdaya saing.
3.      Mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum.
4.      Mewujudkan Indonesia aman, damai dan bersatu.
5.      Mewujudkan pemerataan pembangunan dan berkeadilan.
6.      Mewujudkan Indonesia asri dan lestari.
7.      Mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri, maju, kuat dan berbasiskan kepentingan nasional.
8.      Mewujudkan Indonesia berperan penting dalam pergaulan internasional.
Dari misi tersebut yang terkait lansung dengan sektor lingkungan hidup adalah misi ke 6 yaitu mewujudkan Indonesia asri dan lestari. Dalam mewujudkan Indonesia yang asri dan lestari sasaran dan arah pembangunan Lingkungan Hidup yang digariskan dalam RPJP 2005-2025 adalah sebagai berikut :
A.       Sasaran RPJP 2005-2025 khususnya Lingkungan Hidup
1.      Membaiknya pengelolaan dan penggunaan SDA dan pelestarian fungsi LH yang dicerminkan oleh tetap terjaganya fungsi daya dukung dan kemampuan pemulihannya dalam mendukung kualitas kehidupan sosial dan ekonomi secara serasi, seimbang dan lestari.
2.      Terpeliharanya kekayaan keragaman jenis dan kekhasan SDA untuk mewujudkan nilai tambah, daya saing bangsa, serta modal pembangunan.
3.      Meningkatnya kesadaran, sikap mental dan perilaku masyarakat dalam pengelolaan SDA dan pelestarian fungsi LH untuk menjaga kenyamanan dan kualitas kehidupan.
B.       Arah RPJP 2005-2025 khususnya Lingkungan Hidup
1.      Mendayagunakan SDA yang terbarukan, SDA terbarukan dimanfaatkan secara rasional, optimal, efisien dan bertanggung jawab dengan menggunakan seluruh fungsi dan manfaat secara seimbang.
2.      Mengelola SDA yang tidak terbarukan, Pengelolaan SDA tak terbarukan, seperti bahan tambang, mineral, dan sumber energi diarahkan untuk tidak dikonsumsi secara langsung, melainkan diperlakukanan sebagai masukan, baik bahan baku maupun bahan bakar, untuk proses produksi yang dapat menghasilkan nilai tambah optimal di dalam negeri.
3.      Menjaga keamanan ketersediaan energi, Menjaga keamanan ketersediaan energi diarahkan untuk menyediakan energi dalam waktu yang terukur antara tingkat ketersediaan sumber-2 energi dan tingkat kebutuhan masyarakat.
4.      Menjaga dan melestarikan sumber daya air, Pengelolaan diarahkan menjamin keberlanjutan daya dukungnya dengan menjaga kelestarian fungsi daerah tangkapan air dan keberadaan air tanah.
5.      Mengembangkan sumber daya kelautan, Pembangunan ke depan perlu memperhatikan pendayagunaan dan pengawasan wilayah laut yang sangat luas.Pemanfaatan sumber daya tersebut melalui pendekatan multisektor, integratif dan komprehensif untuk meminimalkan konflik dan tetap menjaga kelestariannya.
6.      Meningkatkan nilai tambah atas pemanfaatan SDA tropis yang unik dan Khas, Deversifikasi produk dan inovasi pengolahan hasil SDA terus dikembangkan agar mampu menghasilkan barang dan jasa yang memiliki nilai tambah tinggi.
7.      Memperhatikan dan mengelola keragaman jenis SDA yang ada di setiap wilayah, Pengelolaan SDA untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal, mengembangkan wilayah strategis dan cepat tumbuh serta memperkuat daerah dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
8.      Mitigasi bencana alam sesuai dengan kondisi geologi Indonesia, Mengembangkan kemampuan sistem deteksi dini, sosialisasi dan desiminasi informasi terhadap ancaman kerawanan bencana alam kepada masyarakat.
9.      Mengendalikan pencemaran dan kerusakan lingkungan, Pembangunan ekonomi diarahkan pada pemanfaatan jasa lingkungan yang ramah lingkungan. Pemulihan kondisi lingkungan untuk meningkatkan daya dukung lingkungan.
10.  Meningkatkan kapasitas pengelolaan SDA dan LH, Peningkatan kelembagaan, penegakan hukum, SDM yang berkualitas, penerapan etika lingkungan, internalisasi etika lingkungan dalam kegiatan produksi, konsumsi, pendidikan formal dan kehidupan sehari-hari.
11.  Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mencintai lingkungan.
C.       Beberapa kelemahan strategis dalam pencegahan kerusakan lingkungan
Beberapa kelemahan yang sifatnya mendasar selama ini dalam mengelola lingkungan hidup dan memerlukan tekad kuat untuk diperbaiki menurut kami adalah :
1.      Energi nasional dalam kurun 10 tahun terakhir tercurah habis untuk pengembangan proses demokrasi yang kurang sehat, sehingga hal-hal yang strategis dan berdampak luas dan menjangkau llintas generasi kurang mendapat perhatian dan dukungan politis. [13]
2.      Kebijakan dan regulasi tentang pengelolaan hidup yang sudah cukup baik dalam formulasinya ternyata tidak dibarengi dengan implementasi yang baik.[14]  
3.      Penegakan hukum terhadap pelanggaran perusakkan dan pencemaran lingkungan hampir tidak ada sangsinya.
4.      Otonomi daerah yang berorientasi menaikkan PAD menyebabkan exploatasi sumber daya yang membabi buta. Seolah-olah Lingkungan Hidup dan SDA adalah sapi perah yang tidak akan habis susunya.
5.      Anggaran sektor LH yang sangat kecil yakni masih pada posisi 1% dari APBN, sementara kontribusi hasil SDA mencapai sekitar 25-30% APBN, sangatlah tidak seimbang antara kebutuhan dan beban yang dibutuhkan.
6.      Sementara Sumber Daya Manusia (SDM) yang menyadari pentingnya peran Lingkungan Hidup sebagai modal pembangunan dan sekaligus tabungan untuk generasi penerus bangsa, sekalipun itu di tingkat pengambil keputusan baik di Pusat maupun Daerah.
7.      Minimnya koordinasi dan sinkronisasi kebijakan dan implementasi mengenai Lingkungan Hidup antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
1.2.            Pendekatan penanganan
A.    Pendekatan wilayah sungai dalam keterpaduan tata ruang
Pembangunan secara alamiah akan tumbuh pesat di daerah yang memiliki sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan dukungan prasarana lainnya. Pusat pertumbuhan berada di perkotaan dengan dukungan daerah pertanian di sekitarnya. Perkembangan ekonomi dengan industri dan perdagangan akan memanfaatkan lahan maupun sumberdaya air. Muncul potensi konflik antara pengguna yang selama ini telah memanfaatkan sumberdaya air dan lahan yang umumnya dalam posisi lemah. Untuk itu sangat diperlukan campur tangan pemerintah dengan penekanan perbaikan pengelolaan sumberdaya air yang berdasarkan pada keterpaduan.
B.     Kesepakatan Internasional 1992, Dublin – Rio de Janeiro dan Cisarua
Dari berbagai konperensi internasional muncul beberapa kesepakatan reformasi dalam pengelolaan sumberdaya air terutama dalam menghadapi Abad 21. Pengelolaan sumberdaya air membutuhkan pendekatan yang holistik, berdasarkan partisipatori yang melibatkan pengguna, perencana dan penentu kebijakan mengingat air dalam keadaan tertentu sudah menjadi benda yang memiliki nilai ekonomi.
C.    Pergeseran paradigma
Dengan mengacu pada perubahan lingkungan, ketersediaan sumberdaya, perkembangan teknologi dan sosial kemasyarakatan maka tidak dapat dielakkan lagi adanya pergeseran paradigma. Pembangunan yang semula kurang serius mempertimbangkan lingkungan sudah harus berwawasan lingkungan. Demikian pula penanganan dengan pendekatan parsial atau proyek individu menjadi pendekatan komprehensif. Pengelolaan yang semula berdasarkan supply untuk memenuhi permintaan sudah harus berorientasi pada pengelolaan sumberdaya dengan pendekatan demand management. 
D.    Pendekatan pengelolaan
Beberapa kata kunci dalam pendekatan pengelolaan sumberdaya air ini adalah keterpaduan berdasarkan kerangka analitis yang holistik, upaya pembenahan institusi dan pengaturan dengan koordinasi, serta penerapan sistim insentive dan disinsentif. Untuk itu upaya pemberdayaan institusi dengan dukungan pengaturan dan kemampuan teknis merupakan salah satu jalan untuk mencapai pengelolaan yang handal dan berkelanjutan.
2.            Penyesuaian Kebijaksanaan Sumber Daya Air
Perlu ada penyesuaian atau reorientasi kebijaksanaan di bidang sumberdaya air yang mencakup hal-hal sebagai berikut :
1)      Pengelolaan sumberdaya air yang berorientasi pada sisi persediaan (supply-side management) perlu diorientasikan ke arah pengelolaan sumberdaya air yang memperhitungkan nilai air dalam kaitannya dengan biaya penyediaan dan memperlakukan air sebagai barang ekonomi ( demandside management).
2)      Kebijakan sumberdaya air yang menekankan pada pengembangan pada satu sistem irigasi perlu disesuaikan yakni menuju pengembangan dan pengelolaan air dalam satu daerah aliran sungai (DAS) yang memperhatikan keterkaitan antara berbagai pengguna air sepanjang sungai, keterkaitan antara air permukaan dan air tanah, perlindungan daerah tangkapan (catchment area) serta mengembangkan sistem pengelolaan one river, one management.
3)      Pengelolaan secara tersentralisasi agar dirubah menjadi terdesentralisasi yaitu dengan melibatkan berbagai pengguna khususnya kelembagaan lokal seperti P3A yang ada dalam setiap tahapan kegiatan keirigasian mulai dari perencanaan, pemeliharaan sampai pemanfaatan. Pemerintah telah menyadari akan kelemahan dari pendekatan yang tersentralisasi dalam pengelolaan sumberdaya air.
Oleh sebab itu, sejak beberapa tahun terakhir ini pemerintah telah memberikan kewenangan yang lebih besar kepada P3A dalam pengelolaan jaringan irigasi. Ini terbukti dari adanya program PIK (Penyerahan Irigasi Kecil) untuk sistem irigasi yang kurang dari 500 ha, sedangkan untuk yang di atas 500 ha petani diwajibkan membayar Iuran Atas Pelayan Irigasi (IPAIR). Sebegitu jauh belum banyak ada laporan evaluasi yang mendalam tentang pelaksanaan program-progaram ini.
4)      Dalam rangka implementasi program PIK dan IPAIR perlu kiranya memotivasi petani agar menjadikan P3A sebagai lembaga irigasi yang mampu berfungsi ganda yakni selain sebagai pengelola sistem irigasi dalam kegiatan operasi dan pemeliharaan (OP) tetapi juga sebagai pengelola agribisnis.
5)      Dalam pengelolaan irigasi, para petani perlu dimotivasi untuk membentuk wadah koordinasi antar P3A atau Federasi P3A baik dalam lingkungan satu sistem irigasi yang terdiri dari beberapa P3A maupun dalam lingkungan yang lebih luas yaitu daerah aliran sungai (DAS). Hal ini dimaksudkan agar air dapat dialokasikan secara lebih adil berdasarkan kesepakatan semua P3A yang terkait. Selain itu, melalui Federasi P3A ini pengaturan dan ketentuan pola tanam dan jadwal tanam yang mendukung pemanfaatan air secara lebih efisien dan adil dapat dirumuskan bersama.
6)      Tanggung jawab pengelolaan DAS memang seyogyanya ada dalam satu tangan. Sebab, DAS merupakan satu kesatuan topografi, satu kesatuan tata air dan satu kesatuan ekosistem dengan batas-batas geografis yang jelas sehingga wajar jika dikelola dalam satu kesatuan managemen. Dengan demikian, maka perencanaan pemanfaatan air sungai dan pengembangan sumberdaya air dalam DAS dapat disesuaikan antara kebutuhan dan potensi yang tersedia (Mahar, 1999).
Kebijaksanaan pemerintah dalam pengembangan dan pengelolaan sumberdaya air di Indonesia selama ini masih mengandung beberapa kelemahan. Antara lain  :
1.         Masih berorientasi pada segi penyediaan (supply-side management).
2.         Lebih menekankan pada pengembangan satu sistem irigasi dan kurang memperhatikan keterkaitan hidrologis antar sistem dalam satu sungai.
3.         Lebih berorientasi pada pengembangan jaringan utama sistem irigasi. dan
4.         Arena pengelolaan air ada pada tingkat sistem irigasi bukan sungai.
Ciri-ciri dari supply-side management seperti dikemukakan oleh Osmet (1996) antara lain air diperlakukan sebagai sumberdaya yang ketersediannya tidak terbatas, peran pemerintah sangat dominan dengan fungsi utama menyediakan air kepada pengguna dengan biaya yang relatif rendah dan bahkan gratis seperti dalam bidang irigasi, lebih menekankan pada pengembangan sarana dan prasarana fisik dengan perhatian utama terpusat pada efisiensi teknis.
Dalam melaksanakan pembangunan nasional perlu memperhatikan tiga pilar pembangunan berkelanjutan secara seimbang, hal ini sesuai dengan hasil Konperensi PBB tentang Lingkungan Hidup yang diadakan di Stockholm Tahun 1972 dan suatu Deklarasi Lingkungan Hidup KTT Bumi di Rio de Janeiro Tahun 1992 yang menyepakati prinsip dalam pengambilan keputusan pembangunan harus memperhatikan dimensi lingkungan dan manusia serta KTT Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg Tahun 2002 yang membahas dan mengatasi kemerosotan kualitas lingkungan hidup. Bagi Indonesia mengingat bahwa kontribusi yang dapat diandalkan dalam menyumbang pertumbuhan ekonomi dan sumber devisa serta modal pembangunan adalah sumberdaya air yang dapat dikatakan bahwa sumberdaya air mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia baik pada masa lalu, saat ini maupun masa mendatang sehingga dalam penerapannya harus memperhatikan apa yang telah disepakati dunia internasional.
Namun demikian, selain sumberdaya alam yang mampu mendatangkan kontribusi besar bagi pembangunan di lain pihak keberlanjutan atas ketersediaannya sering diabaikan yang mestinya ditaati sebagai landasan melaksanakan pengelolaan suatu usaha dan atau kegiatan mendukung pembangunan dari sektor ekonomi yang secara garis besar kurang diperhatikan, sehingga ada kecenderungan terjadi penurunan daya dukung lingkungan dan menipisnya ketersediaan sumberdaya air yang ada serta penurunan kualitas lingkungan hidup. Pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang tidak dilakukan sesuai dengan daya dukungnya dapat menimbulkan krisis pangan, krisis air, krisis energi dan lingkungan. Secara umum dapat dikatakan bahwa hampir seluruh jenis sumberdaya alam dan komponen lingkungan hidup mengalami penurunan kualitas dan kuantitasnya dari waktu ke waktu.
Dengan kondisi tersebut maka pengelolaan sumberdaya air yang berkelanjutan perlu ditingkatkan kualitas dan dukungan penegakan hukum lingkungan yang adil dan tegas, sumberdaya manusia yang berkualitas, perluasan penerapan etika lingkungan serta asimilasi sosial budaya yang semakin mantap. Perlu segera didorong agar perubahan cara pandang terhadap lingkungan hidup yang berwawasan etika lingkungan melalui internalisasi kedalam kegiatan/proses produksi dan konsumsi, dan menanamkan nilai dan etika lingkungan dalam kehidupan sehari-hari termasuk proses pembelajaran sosial serta pendidikan formal pada semua tingkatan.
Dalam pelaksanaan pembangunan nasional yang berkelanjutan, perlu memperhatikan penjabaran lebih lanjut mandat yang terkandung dari Program Pembangunan Nasional yaitu pada dasarnya merupakan upaya untuk mendayagunakan sumberdaya air untuk kemakmuran rakyat dengan memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup, pembangunan yang berkelanjutan, kepentingan ekonomi dan budaya masyarakat lokal sertapenataan ruang.
Dengan demikian pengertian pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pada saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang dalam memenuhi kebutuhan publik. Konsep ini mengandung dua unsur :
1.         Kebutuhan, khususnya kebutuhan dasar bagi golongan masyarakat yang kurang beruntung yang amat perlu mendapatkan prioritas tinggi.
2.         Keterbatasan, penguasaan teknologi dan organisasi sosial harus memperhatikan keterbatasan kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan manusia pada saat ini dan di masa depan.
Hal ini mengingat visi pembangunan berkelanjutan bertolak dari Pembukaan Undang - Undang Dasar 1945 yaitu terlindunginya segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, tercapainya kesejahteraan umum dan kehidupan bangsa yang cerdas, dan dapat berperannya bangsa Indonesia dalam melaksankan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dengan demikian, visi pembangunan yang dapat dianut adalah pembangunan yang dapat memenuhi aspirasi dan kebutuhan masyarakat generasi saat ini tanpa mengurangi potensi pemenuhan aspirasi dan kebutuhan generasi mendatang.

PENUTUP
1.            Kesimpulan
Keinginan untuk membangun lembaga ekonomi yang sejalan dengan prinsip Islam seperti lembaga finasial yang bebas bunga, pengumpulan zakat lewat pemerintah, dan lain-lain. Berdasarkan hal tersebut telah melahirkan keprihatinan untuk mengembangkan sebuah pendekatan baru bagi ekonomi pada kalangan terbatas seperti keprihatinan untuk mengembangkan suatu disiplin akademis yang secara umum disebut tatanan ekonomi Islam. Tatanan ekonomi Islam dilandasi dengan fondasi yang kuat yaitu tauhid (keesaan Tuhan), khilafah (perwakilan), dan ‘adalah (keadilan).
Ketiga landasan tersebut merupakan satu kesatuan yang saling terkait. Hal tersebut diatas jika dikaitkan dengan sumber daya alam termasuk didalamnya pelestarian sumber daya air yang diciptakan harus dimanfaatkan untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh umat Islam yang mencintai dunia lingkungan hidup. Berikut peranan pemerintah dalam tatanan ekonomi baru yang perlu dipahami, paling tidak mencakup empat hal :
1.      Maksimalisasi tingkat pemanfaatan sumber daya.
2.      Minimalisasi kesenjangan distributif.
3.      Maksimalisasi penciptaan lapangan kerja.
4.      Maksimalisasi pengawasan.
2.            Saran
Dari penulisan diatas ada beberapa hal yang perlu diuraikan kembali mengingat krisis air yang kemungkinan besar akan terjadi :
1.      Pemerintah harus mensosialikan akan krisis air terhadap rakyat banyak agar dijadikan pelajaran bagi pengguna air.
2.      Pemerintah harus memberikan support terhadap masyarakat yang sudah berhasil melestarikan sumber daya air dengan tujuan masyarakat dapat meniru orang yang sudah paham terhadap lingkungan.
3.      Pemerintah selaku pembuat kebijakan harus tegas, adil, dan bijaksana dalam menjalankan UU minimal memberikan sanksi terhadap petugas yang tidak berhasil dalam mengelola, melestarikan, dan Mensosoalisasikan SDA terhadap Rakyat.

DAFTAR PUSTAKA
Helmi., “Kearah Pengelolaan Sumberdaya Air yang Berkelanjutan: Tantangan dan Agenda untuk Penyesuaian Kebijaksanaan dan Birokrasi di Masa Depan”. Dalam VISI Irigasi Indonesia Nomor 13 (7) 1997, Pusat Studi Irigasi Universitas Andalas, Padang, 1997.
Iqbal Achmad. Pemerintah Harus Perhatikan Konsep Ekonomi Islam 24-11-2008 Website http://www.ekonomisyariah.net
Anonim, 2001. “Memprihatinkan Limbah Hotel dan Rumah Tangga di Badung dan Denpasar”,. Dalam Bali Post, Kamis 12 April
Nasoetion , Lufti dan Joyo Winoto.,“Masalah Alih Fungsi Lahan Pertanian dan Dampaknya Terhadap Keberlangsungan Swasembada Pangan”, Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian, Jakarta, 1996.
Kurnia, G., Arianto, T., Judawinata, R., Sufyandi,A., Rija., dan D. Hermajanda. 1996. “Persaingan dalam Pemanfaatan Sumberdaya Air”, Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian, Jakarta, 1996.
Atmanto, Sudar Dwi., “Pertanian dan Irigasi Air Limbah”, dalam Irigasi Petani No.11/V/1993, Pusat Studi dan Pengembangan Irigasi (PSPI), LP3ES, Jakarta, 1993.
RPJP memuat visi, misi, kondisi umum, arah, tahapan, dan prioritas Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025